Sepenggal Catatan di Medan Juang

Malam itu langit masih meneteskan rintik gerimisnya. Selepas pulang silaturrahim dari rumah tim sukses, saya dipanggil oleh mang yanto, tukang becak di pangkalan becak gerbang komplek perumahan. Tidak lama datang juga mang nur yang biasa tidur di kantor desa.

Saya pun memarkir motor diantara jajaran becak yang menanti kedatangan para karyawan pabrik. Waktu sudah lewat dari jam 22.00. Kami mengobrol lesehan di teras toko kelontong yang sudah tutup ditemani dua cangkir kopi dan kepul asap rokok yang sesekali keluar dari mulut mang nur dan mang yanto. 

Obrolan kami kesan kemari hingga soal pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi. Sesekali kami tertawa kecil ketika membicarakan kondisi Banten pasca ditahannya sang gubernur. Bukan menertawakan Banten nya atau menertawakan gubernurnya, tapi menertawakan kondisi malam menjelang pilgub yang konon ramai dengan pembagian mie instan dan uang. Istilahnya adalah serangan fajar atau malam takbiran..

Sesosok lelaki memarkir kendaraanya tidak jauh dari kami. Gaya bahasanya khas. Tidak sulit untuk menebak dari mana sosok lelaki ini berasal. Terlebih profesinya sebagai penyedia jasa tambal ban.

Mang yanto berbisik ke telinga saya, bahwa lelaki yang berdiri didepan kami merupakan salah satu tokoh masyarakat perantauan.

Tanpa aba-aba, mang yanto memperkenalkan saya sebagai calon anggota dewan. Saya sedikit terkejut. Belum siap untuk berbicara politik dengan lelaki di depan saya yang notabene beda keyakinan.

Lalu dengan logatnya yang kental, dia bertanya “mau apa kamu kalau jadi anggota dewan?”. Saya lalu menjawab dengan spontan “saya mau jadi backing buat orang-orang lemah”.

Mendengar jawaban itu, si lelaki ini, sebut saja namanya pa ucok, kemudian duduk bersama kami. Dia lalu menuturkan bahwa beberapa waktu yang lalu ada caleg dari partai lain yang meminta dukungan kepadanya. Si caleg tersebut menjanjikan kalau dia terpilih, dia siap membantu komunitas yang dipimpin pa ucok.

Pa ucok menuturkan kalau jawaban tersebut membuat dia tersinggung. Dia mengaskan bahwa dia sudah nggak percaya dengan janji muluk-muluk. Dia juga tidak suka dengan gaya sombong si caleg. “saya masih sanggup hidup dan beli rokok” istilah beliau.

Setelah berbicara panjang lebar yang lebih banyak merupakan curahan hati pa ucok, mang yanto kemudian bertanya ke pa ucok siap nggak membantu saya.

Jawabanya mengejutkan, dia bilang kalau dia tidak siap dia tidak mungkin mau duduk bersama kami karena dia sendiri punya banyak urusan. Bahkan beliau mau membantu saya menjembatani komunikasi dengan orang-orang didalam komunitasnya.

Saya merasa tawaran bantuan dari pa ucok ini terlalu cepat dan tidak disangka-sangka. Saya memang pernah mendengar PKS yang sudah diterima di wilayah-wilayah yang mayoritas non muslim. Tapi saya tidak menyangka jika Allah berkenan memberikan saya kesempatan untuk mengenalkan dan mendekatkan PKS kepada orang yang beda keyakinan agama.

Saya tidak tahu realisasi tawaran bantuan dari pa ucok di pemilu nanti, yang saya syukuri adalah saya mendapatkan pelajaran bahwa kita harus siap berkomunikasi dengan siapa saja. Harus sabar mendengar. Bahkan kepada komunitas yang kita sangka akan menolak kita mentah-mentah. 

Namun bukan itu satu-satunya kejadian yang mengusik kesadaran saya. Sekitar 10 meter dari tempat kami mengobrol, seorang ibu dengan anaknya yang baru menginjak remaja seperti terlihat kesulitan memasang banner di pohon besar pinggir jalan.

Saya meminta mang nur untuk mendekati si ibu tersebut dan membantunya. Saya berpikir itu banner tempat kursus menjahit si ibu atau yang sejenisnya. Si ibu dan anaknya lalu pergi dan tidak jadi memasang banner.

Mang nur kemudian kembali dan bilang bahwa di banner itu ada foto saya. Saya tidak percaya dan bilang ke mang nur kalau saya tidak mungkin meminta ibu-ibu memasang banner. Apalagi malam sudah larut dan gerimis pula.

Mang nur tetap berkeyakinan bahwa di banner itu ada foto saya. Dan saya pun tetap berkeyakinan bahwa hal itu tidak mungkin. Kami pun melanjutkan obrolan. Waktu semakin malam dan tidak lama saya pun pamitan.

Dalam perjalanan pulang saya melihat banner-banner yang ketika saya berangkat belum ada. Disitu terpampang foto saya dengan caleg DPR RI dan Caleg Kabupaten. Subhanallah.. ternyata mang nur benar. Si ibu dengan anaknya itu memasangi banner-banner tersebut padahal hari sudah malam dan gerimis. Saya tidak mengenal ibu tersebut. Tapi saya bertekad akan mencari tahu untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Ikhtiar si ibu tersebut buat saya luar biasa. Sesuatu yang belum tentu pernah dilakukan oleh seorang kader.

Ditengah perasaan masih terlalu muda, belum berpengalaman dan beratnya tugas sebagai Caleg Propinsi. Ditambah situasi politik yang menuntut modal besar yang kadang melahirkan sikap pesimis,  kejadian malam ini membuat saya semakin yakin, Allah tidak membiarkan saya berjuang sendirian.

Dengan kejadian ini saya juga ingin meyakinkan caleg-caleg muda PKS bahwa tugas kita hari ini adalah terus bergerak. Dan Allah akan menggerakkan kuasanya untuk membantu kita anak muda, terus maju.

Banten, Januari 2014

Zuliyanto, SE, M.Si
Caleg DPRD Propinsi Banten Dapil Kab. Serang

Sumber : www.pks-banten.org
Website Resmi DPD PKS Kota Cilegon. Diberdayakan oleh Blogger.