Ukhti Nurliani, Sosok Isteri Teladan Kader PKS



Nurliani Ummu Nashifa
Saya lupa kapan persisnya suami diberi amanah sebagai Ketua Ranting (DPRa) PKS di sebuah kelurahan wilayah ujung perbatasan kota metropolitan, DKI Jakarta.

Seingat saya, sesaat sebelum amanah itu diemban suami sudah memegang amanah menjadi Ka Pelayanan diwilayah kelurahan kami, Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Hampir sekitar 3 tahun, amanah yang berat bagi kami, karena tidak mungkin saya biarkan suami tercinta saya ini memegang amanah berat tersebut serasa sendirian. Amanah yang sejak awal kalau bisa kami tolak atau tidak diterima. Seingat saya, lebih enak jadi kader biasa saja tentunya. Tidak usah jadi pengurus, apalagi diberikan amanah sebesar ini bagi kami. Namun nasihat Ustadzah Yoyoh Yusroh begitu sering terlintas di kepala, bahwa berlelah-lelah itu di dunia, istirahatnya di surga.

Bismillah saya dukung suami saya 1000% kalau perlu, untuk mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya. Dimulailah kami sering diskusi, hal apa saja yang bisa kami lakukan untuk kelurahan tercinta ini. Kami tinggal diwilayah ini baru sekitar 6tahun, saat Pilkada DKI 2007 dulu kami pindah kesini. Bergabung dengan saudara/i disini menjadi oase kebahagiaan bagi keluarga kecil yang baru kami bangun tersebut. Saat itu, kami baru memiliki anak satu, usia 5 bulan.

Di awal amanahnya, dimulailah saya lihat suami sering pulang malam dalam 1xsepekan untuk menghadiri rapat di DPC kami belum lagi instruksi tiba-tiba dari DPW atau DPD untuk menghadiri agenda yang lain/konsolidasi. Wajah kelelahan dan istirahat yang kurang menjadi salah satu rutinitasnya. Maklum saja, karena besok paginya suami saya harus kembali bekerja kantoran.

Kalau saya teringat amanah suami yang berat, seringkali saya support dengan menanyakan bagaimana program-progam DPRa kedepan. Yang paling berkesan saat kemarin kami berjuang diPilgub, waktu Ustadz Hidayat diusung PKS. Ingatan saya muncul, kami berdua selepas pulang kantor menyusul ke DPW kemudian ke KPUD untuk mengantarkan dengan semangat qiyadah tercinta kami tersebut. Di mobil langsung kami diskusikan bagaimana langkah-langkah kedepan untuk mensukseskan langkah Ustadz Hidayat sebelum biasanya suami saya akan diskusikan di program rutin syuro pekanan dengan pengurus lainnya.

Kami biasa syuro pekanan di rumah kecil kami, Alhamdulillah rumah ini menjadi berkah karena menjadi markas bagi kader PKS kelurahan kami untuk mengadakan syuro semenjak pasca pilkada DKI 2007 lalu. Maklum budget DPRa terbatas untuk bisa menyewa ruko, lebih baik dananya kami gunakan untuk keperluan lain yang lebih penting. Pernah sih dicoba untuk sewa, namun akhirnya pindah lagi kerumah ya karena alasan dana itu.

Pernah suatu malam, suami saya tidak bisa tidur karena bagaimana bingungnya memikirkan cara yang efektif untuk dapat memenangkan Ustadz Hidayat dalam Pilgub sedangkan dana belum ada yang turun. Dana kas terbatas sekali, dan ghirah kaderpun masih belum terlihat. Tetesan airmatanya mengalir deras, saya jadi ikut menangis dan coba menenangkan suami bahwa pasti ada jalan untuk kita bisa tetap membuat program-program ditengah masyarakat kelurahan kami ini.

Kemudian saya sampaikan pada suami, “Abi..,  ini umi ada sedikit tabungan bisa kita belikan alat pembuat pin dan gelas. Kita bisa gunakan alat tersebut untuk mencari orderan dari DpRa lain,dan juga sebagai minimalisir dana kampanye.” Alhamdulillah, suami menerima gagasan dan dana tabungan saya tersebut. Akhirnya kamipun membeli alat tersebut yang bisa digunakan untuk support pemenangan Pilkada DKI 2012.

Akhir pekan, agenda kami selain diisi jadwal halaqoh rutin tentunya kami harus berpindah dari RW ke RW yang lainnya untuk mengadakan baksos, pelayanan kesehatan dan direct selling ke tengah-tengah masyarakat. Aktivitas ini memang sudah rutin kami lakukan, namun dikala perjuangan dakwah ini telah ditentukan tentu intensitasnya menjadi lebih dipersering. Jam tidur tentu kami kurangi, saya bantu suami dengan segala support untuk terus semangat dan semangat untuk memenangkan Ustadz Hidayat.

Seringkali kami berdiskusi dan bersyukur bagaimana dikala hempitan ujian, selalu saja ada jalan kemudahan. Bahkan seringkali kami berdoa untuk Allah berikan rezeki-rezeki yang tak terduga agar support dakwah semakin mudah. Saat Pilkada DKI kemarin, saya sedang hamil anak ke-3, namun ingin saya perlihatkan pada suami. Bahwa istrinya yang sedang hamil ini, tak lantas menjadi surut semangat dan langkahnya sebagaimana Asma binti Abu Bakar mencontohkan dalam membantu perjuangan Rasulullah dan ayahnya.

Sebagai Ketua DPRa, suami sering menceritakan bagaimana qiyadah-qiyadah telah menyampaikan program-progam yang baik untuk bisa dilaksanakan, namun sinergisitas dengan seluruh pengurus dan kader di DPRa kami tentunya harus diselaraskan agar porgram dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Untuk membantu suami, seringkali saya ingatkan jadwal syuro pekanan DPRa atau membantu beliau mengirim sms tercinta kepada seluruh kader kelurahan. Bahkan urusan menjawab sms pun saya sering membantu beliau, tentunya dengan izin beliau dan isi yang sudah sesuai instruksi :)

Walaupun Allah belum mentakdirkan Ustadz Hidayat menjadi Gubernur DKI namun aktivitas perjuangan kami tidak terhenti hanya saat momen PilGub. Aktivitas sosial dan keagamaan kami tetap berjalan, walau kuantitasnya agak berkurang dikarenakan aktivitas kader diluar juga banyak.

Sungguh amanah ini sangat berat, seringkali suami bilang kalau bisa yang lain mending yang lain saja. Namun sebagai istri, saya sampaikan… “Abi, ini amanah dakwah, jalankan dengan sebaik-baiknya. Memohonlah kepada Allah agar senantiasa diberikan petunjuk dan kemudahan.”

Teringat amanah menjadi istri Ketua DPRa, saya juga seringkali tersenyum. Suatu malam, rumah kami kedatangan tamu. Seorang bapak, yang ingin meminjam uang karena ingin membantu ibunya keluar dari RSUD Koja, disampaikannya ini informasi Pak RT. Kata Pak RT, coba saja kerumah Pak Mahfud, Ketua PKS. Orang PKS kan baik-baik, sosial banget. Insya Allah kalau kesana akan ada bantuan. Ya Alhamdulillah, walau tidak bisa sepenuhnya, namun ada yang sedikit bisa kami bantu. Senang rasanya kalau PKS telah menjadi trade-mark kebaikan di tengah-tengah masyarakat.

Justru saya seringkali khawatir, kalau amanah suami ini sebagai Ketua DPRa di kelurahan ini tidak berjalan maksimal. Bahkan selalu saya berdoa, semoga tidak ada warga kelaparan/kesulitan yang kami tidak ketahui. Sungguh saya bersyukur, dengan amanah ini pintu-pintu kebaikan menjadi lebih mudah terbuka, peluang amal menjadi lebih besar. Dan semoga Allah kabulkan menjadi salahsatu jalan yang memudahkan kami untuk berkumpul di  SurgaNya.

Pemilu sudah semakin dekat, perjuangan dakwah sudah dipelupuk mata. Seperti momen sebelumnya, diskusi-diskusi kami terasa indah diiringi program-progam apa yang bisa kami berikan terus untuk kader dan masyarakat.

Demikian secuil cerita saya sebagai istri Ketua DPRa PKS. Semoga dimanapun berada, para ummahat bisa terus juga menggelorakan semangat dakwah suaminya untuk terus mengemban amanah. Sungguh istirahat itu nanti di Surga. []


*Penulis: @semangat_liani on twitter
Website Resmi DPD PKS Kota Cilegon. Diberdayakan oleh Blogger.