Kiat Memilih Sang Pemimpin

Rakyat Indonesia akan memilih presiden dan wakil presiden untuk kurun waktu lima tahun mendatang. Tiap hari, perbincangan seluruh masyarakat di pelosok Tanah Air tidak pernah luput dari obrolan para kandidat yang menjadi jagoannya masing-masing baik dalam diskusi ringan di warung-warung, obrolan keseharian, maupun saling beradu argument di dunia maya.
Media massa pun tidak pernah henti-hentinya menyiarkan berita para capres-cawapres serta dukungan-dukungan yang terus mengalir untuk memihak salah satu pilihannya. Sampai-sampai di dalam suatu pengajian atau ceramah agama pun mucul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan urusan pilih-memilih seorang pemimpin.
Jika Anda rajin searching di dunia maya untuk mencari informasi tentang bagaimana memilih seorang pemimpin, kriterianya seperti apa, apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih, akan sangat banyak berbagai tulisan sudah siap untuk disantap dan dicerna. Pada kesempatan ini pun, penulis tidak terkecuali turut meramaikan hingar bingar pesta demokrasi bangsa Indonesia yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
Saya akan memulai tulisan ini dengan memaparkan terlebih dahulu tentang kriteria apa saja yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Penetapan kriteria ini sangat penting agar kita tidak keliru dalam menetapkan pilihannya.
Jangan sampai kita memilih seorang pemimpin hanya menilai secara emosional atau perasaan saja tetapi harus memiliki seperangkat persyaratan atau kriteria agar pilihannya tidak keliru. Salah dalam memilih, maka selama lima tahun ke depan kita akan menerima dampaknya.
Sebagai pemimpin negara, persyaratan Presiden dan Wakil Presiden diatur dalam Undang-Undang No. 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Untuk menjadi Presiden dan wakil Presiden, terdapat 18 syarat yang tercantum dalam undang-undang tersebut, di antaranya adalah harus bertakwa, sehat jasmani rohani, tidak pernah melakukan perbuatan tercela, setia kepada negara, dan memiliki visi, misi, dan program dalam melaksanakan pemerintahan negara Republik Indonesia.
Ada pun sumpah dan janji Presiden dan Wakil Presiden menyebutkan bahwa mereka bersumpah dan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.
Berdasarkan kriteria tersebut dan mengacu kepada berbagai sumber rujukan, penulis mencoba meringkas dari sekian banyak kriteria yang ada menjadi 5 syarat penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu:
1. Kuat
Pengertian kuat yang dimaksud bisa berarti memiliki makna tidak saja kuat bekerja dalam memimpin, mencakup kuat fisik, sehat jasmani rohani, berbadan kuat dan tidak sakit-sakitan. Makna kuat juga bisa diartikan kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan professional.
Kuat dalam memimpin perang bermakna memiliki keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang serta mengatur strategi, karena pada hakekatnya perang adalah strategi. Sementara dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat Indonesia yang saat ini semakin hari semakin mudah melakukan pelanggaran hukum, pemimpin harus kuat dalam arti memahami ilmunya, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu.
Kuat juga bisa bermakna memiliki wibawa yang kuat, berjiwa pemberani, tegas dalam pendiriannya sehingga seorang pemimpin akan disegani oleh rakyatnya maupun bangsa-bangsa lain. Dia akan dihormati oleh bangsa lain. Rakyatnya pun tidak akan dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.
Jika dia tidak kuat, maka dia akan mudah dijatuhkan oleh negara lain yang tidak menginginkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan negerinya terwujud. Dia harus berani dan tak gentar dengan siapa saja yang mengancam kedaulatan negaranya. Dengan berani dan kuat, musuh-musuh akan gentar kepadanya. Negara lain tidak akan berani memperbudak negerinya. Bangsa lain tak akan berani mengeruk kekayaan yang tersimpan di tanah airnya.
Khalid bin Walid dan ‘Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer oleh Rasulullah. Padahal ilmu keislaman mereka berdua belum memadai, tapi ternyata keduanya dianggap kuat bekerja dan mampu menjaga amanah.
Sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan haditsnya dan banyak mendampingi Rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. Semangat Hasan bin Tsabit membela Islam juga tidak masuk kriteria orang yang layak memegang pimpinan atau jabatan. Tentu lagi-lagi karena tidak masuk kriteria pemimpin yang dicanangkan Nabi.
Pemimpin negara yang kuat akan mampu menggerakkan rakyatnya untuk menggali dan menggembangkan berbagai potensi yang dimiliki, sehingga negara itu menjadi berkembang dan maju. Oleh karena itu keberadaan pemimpin yang kuat menjadi mutlak. Pemimpin tidak boleh memiliki jiwa, pikiran, dan bahkan fisik yang lemah. Kelemahan itu akan berakibat kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki 13.466 pulau, 1.340 suku bangsa, dan 746 bahasa, tentunya tidak bisa dipimpin oleh sembarang orang yang hanya mengandalkan popularitas, tetapi oleh pemimpin yang kuat, mampu, dan tegas.
2. Amanah
Makna amanah adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Amanah juga bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.
Seorang pemimpin negara yang mendapat amanah dari rakyatnya tidak akan bisa dilaksanakan kecuali jika sang pemimpin memang benar-benar orangnya jujur dan mencintai rakyat dan negerinya. Jika tak ada rasa cinta kepada rakyatnya, dia tak akan memikirkan rakyatnya. Jika dia tidak mempunyai rasa cinta kepada negerinya sendiri, maka dia tak akan peduli akan nasib negerinya di masa mendatang.
Potensi negeri yang begitu melimpah bukannya digunakan untuk kepentingan hidup negerinya melainkan menggadaikannya kepada negara atau bangsa lain tanpa merasa berdosa. Semuanya dilakukannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya.
3. Berilmu
Makna berilmu adalah memiliki pengetahuan yang cukup, kecerdasan serta keluasan ilmu dan wawasan. Artinya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, mengetahui ilmu tentang tugasnya. Adalah malapetaka suatu bangsa jika pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat ternyata tidak cukup ilmu tentang tugasnya.
Keutamaan ilmu bagi seorang pemimpin dapat dilihat dari segi dampak yang ditimbulkan. Pemimpin yang berilmu akan membuat terobosan-terobosan baru yang meskipun pada masanya tidak terlaksana tetapi masih dapat digunakan oleh generasi sesudahnya. Beda halnya dengan pemimpin bodoh yang tidak punya terobosan sehingga berdampak kepada mundurnya beberapa generasi.
Urgensi mengedepankan ilmu dari pada akhlak bagi seorang pemimpin karena membina pemimpin yang berilmu supaya berakhlak baik lebih mudah dari pada mencerdaskan pemimpin yang bodoh. Sebagai contoh, dengan menegakkan supremasi hukum dan kontrol sosial maka kejahatan akhlak seorang pemimpin dapat diminimalisir dan cara ini tidak dapat dilakukan pada pemimpin yang bodoh (Achyar Zein, 2013).
Seorang pemimpin idealnya memiliki ilmu yang luas lagi cerdas, berbadan kuat, dan mampu melaksanakan amanah rakyat. Dengan berilmu dan berwawasan luas, maka pemimpin akan mampu membaca negerinya dengan benar.
Dia akan tahu apa saja yang dibutuhkan negerinya agar bisa berkembang dan maju di mata internasional. Dia akan tahu apa yang diinginkan rakyat. Dia akan tahu bagaimana caranya mensejahterakan hidup rakyatnya. Dia tidak buta akan daerah-daerah mana yang sangat membutuhkan bantuan. Semua itu hanya dapat terealisasi jika rakyatnya dipimpin oleh pemimpin yang berilmu luas lagi cerdas dan berwawasan luas.
4. Visioner
Memiliki pandangan jauh ke depan tentang apa yang akan dicapainya, visioner, akan dapat membangkitkan harapan dari rakyat yang dipimpinnya. Dalam menentukan visi yang akan dicapainya, seorang pemimpin tentunya harus memiliki ilmu pengetahuan, pengalaman, dan potensi diri. Visioner atau tidaknya seorang pemimpin dapat diketahui dari pola pikir, sikap kepemimpinan, dan responnya terhadap masalah yang terkait dengan kepemimpinannya.
Pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang mampu membuat lompatan berfikir dengan menggunakan data, fakta dan prediksi yang jelas guna menentukan arah yang akan dicapai dalam batas-batas waktu yang jelas. Pemimpin visioner adalah mereka yang bisa membaca peluang untuk dijadikan modal bagi kemajuan organisasi yang dipimpinnya.
Pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang dengan rendah hati dapat menempatkan diri secara tepat dalam memberikan jawaban terhadap masalah-masalah yang belum diketahuinya. Sikap berendah hati terhadap ketidaktahuan atau kegagapannya adalah ciri khas yang melekat pada pemimpin visioner. Tidak merasa kalah atau dikalahkan jika idea atau gagasan orang-orang yang dipimpinnya jauh lebih hebat dari nya, itu juga indikator pemimpin visioner itu.
Pemimpin visioner dengan cepat dan sadar terhadap perubahan dan kemudian menjadikan dirinya sebagai faktor kunci perubahan adalah sisi lain yang ada pada pemimpin visioner itu. Pemimpin visioner adalah orang-orang yang tidak dengan mudah menerima atau menolak satu gagasan, tanpa terlebih dahulu mengetahui alasan dan argument rasional dari ide itu. Pola berfikir reaksioner, tanpa mengkaji secara komperhensif dan mendalam terhadap suatu kondisi adalah pantangan bagi orang yang visioner (Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., 2012).
5. Pandai menjaga
Pada setiap kesempatan wartawan bertanya kepada masyarakat. Yang ditayangkan di media elektronik atau media cetak, ternyata permintaan masyarakat tidak pernah muluk-muluk, mereka menghendaki agar kehidupannya menjadi lebih tenang, para pedagang dapat berjualan dengan nyaman tanpa harus menghadapi gusuran, atau hanya sekadar bahwa kehidupan kesehariannya tidak mengalami gangguan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis “Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban).
Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi, di saat rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
Kriteria seorang pemimpin pun tersirat dalam pidatonya Khalifah Abu Bakar Assiddiq ra saat dilantik menjadi pemimpin umat sepeninggal Rasulullah:
Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya. Untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah di antara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan salat. Semoga Allah Swt melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.”
Prabowo dalam pidatonya pada saat Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai sempat terucap sejumlah pujian kepada Jokowi. Ia menyebut Jokowi adalah saudaranya dan JK adalah seniornya. "Saya yakin mereka putra-putri terbaik bangsa. Kami yakin saudara Jokowi dan Jusuf Kalla adalah patriot yang cinta Tanah Air," katanya. Namun wajah Jokowi hanya terlihat datar. Berbeda dengan JK yang sempat menganggukkan kepalanya (Tempo.Co, 3 Juni 2014).
Selamat memilih……..
*) Priatna Agus Setiawan adalah Konsultan Manajemen Organisasi dan SDM.

Sumber : www.pksbanten.org
Website Resmi DPD PKS Kota Cilegon. Diberdayakan oleh Blogger.